Hong Kong I'm in Love


www.straitstimes.com

Jakarta dan kota penyangga sekitarnya bakal punya sistem transportasi masal yang disebut sama LRT (Light Rail Transit). Bakal kayak apa serunya, kita tunggu aja sampai pemprov DKI menyelesaikan proyek yang rencananya akan dioperasikan akhir 2018 ini. Walaupun LRT Jakarta belum selesai, naik LRT pernah saya cobain di negara lain.

Beberapa saat lalu saya berkesempatan ngunjungin Hong Kong. Negara yang mirip sama Indonesia, karena sama-sama memiliki masalah kemacetan di jalan raya. Dari banyak hal yang menarik tentang negara ini, ada satu hal yang membuat saya kagum yaitu tentang transportasi masal-nya.

Negara dengan total luas wilayah 2,755 km2 ini, terdiri dari tiga pulau besar yaitu Kowloon Peninsula, Hong Kong Island, dan New Territorial. Walaupun jalanan di Hong Kong macet, penduduknya tidak banyak menghabiskan waktu di jalan, sebab mereka punya alat transportasi yang bisa diandalakan, yaitu Mass Transit Railway (MTR).

Memang MTR ini salah satu yang saya kagumi dari sistem transportasi masa di negara dengan kepadatan penduduk tertinggi keempat di dunia ini. Kesan pertama naik kereta bawah tanah ini begitu menggoda. Untuk bisa naik MTR pertama-tama saya harus menemukan platform (sebutan untuk stasiun MTR), yang dapat dengan mudah dijumpai.

Memasuki platform hawa dingin dari pendingin udara menyapa saya, yang memang sudah cukup kegerahan berjalan dari tempat penginapan. Lorong-lorong platform yang  panjang dan luas serta cahaya bersih dari lampu penerangan, membuat saya menikmati perjalanan yang sebenarnya cukup jauh (antara pintu masuk dengan tempat menunggu kereta).

Selain pendingin udara tadi, saya juga disuguhkan dengan papan neon di beberapa tempat strategis, sebagai media iklan yang menampilkan artis tekenal sebagai modelnya. Tidak ketinggalan juga minimarket, toko makanan, toko yang menjual simcard, dan beberapa toko lain yang menarik. Serta deretan ATM dan mesin isi ulang kartu otomatis.

Eskalator menjadi sarana penawaran berikutnya untuk memudahkan naik dan turun di dalam platform. Dan untuk beberapa platform yang berfungsi sebagai hub, selain eskalator juga disediakan elevator untuk memudahkan penumpang yang diburu waktu atau memanjakan penumpang yang lelah berjalan.

Mendekati gerbang otomatis, saya dengan mudah menemukan peta jalur MTR yang dipasang di pilar-pilar penyangga platform maupun ditempat-tempat pertemuan banyak arah. Tidak ketinggalan seorang petugas yang siap membantu penumpang yang kesulitan. Juga papan petunjuk layanan penumpang dan loket penjualan tiket maupun isi ulang.

Dengan banyaknya jalur kereta bawah tanah dan pintu masuk menuju ke tempat tersebut, saya tidak pernah khawatir tersasar atau resah mencari keberadaan petugas. Sebab di setiap pintu masuk saya menemukan papan petunjuk arah yang memuat informasi dengan singkat dan jelas, cukup mengikuti arahannya.

Kalau masih nggak yakin dengan jalur yang benar? tenang aja, karena di tempat menunggu kereta masih ada satu peta di setiap pintu yang memberikan informasi ke arah mana kereta menuju. Warna terang menunjukkan jalur yang akan dilalui kereta, sementara warna gelap untuk jalur yang telah dilewati kereta.

Jadi kalau salah jalur, tinggal jalan ke jalur diseberangnya dan untuk meyakinkan liat lagi peta di setiap pintu tadi. Kalau sudah berada di jalur yang benar, dan kereta tersedia masuklah ke dalam kereta dengan tenang. Kalau keretea belum tersedia cukup menunggu kereta datang sambil berbaris rapi pada tempat yang telah diberi tanda.

Tempat menunggu dilengkapi  dengan TV onboard yang menampilkan informasi cepat perihal kedatangan kereta yang tiba setiap empat menit sekali. Selain TV, tempat ini juga dilengkapi dengan pintu screen platform yang otomatis terbuka saat kereta tiba. Jelas sekali pintu ini untuk mencegah penumpang jatuh ke rel.

Fasilitas untuk disabilitas tidak terlewatkan, sepanjang platform terdapat lantai khusus untuk tunanetra misalnya, pintu kereta yang lebar untuk pengguna kursi roda, serta ketersediaan ruang khusus disabilitas yang cukup lapang di dalam kereta.

Di dalam kereta fasilitas yang saya temukan berupa peta berkedip, papan informasi elektronik, dan pengumuman multi bahasa (bahasa lokal dan bahasa Inggris). Peta berkedip memberikan informasi stasiun pemberhentian berikutnya, serta pintu mana yang akan terbuka sedangkan papan informasi elektronik berisi berita layanan penumpang.

Setiba di tempat tujuan, sekali lagi yang saya butuhkan sebagai orang asing adalah peta. Kali ini bukan peta jalur kereta yang saya lihat, melainkan peta arah pintu keluar. Pada satu platform MTR bisa terdapat sepuluh pintu keluar. Hal ini berguna untuk mempermudah penumpang menuju tempat tujuan dengan jalur terdekat yang bisa ditempuh.

Peta ini sangat berguna sekali, karena ditempatkan di dinding pertemuan dua arah. Dengan melihat peta ini, saya tahu dengan jelas dipintu mana saya harus keluar. Tidak lupa jika haus datang, saya cukup mampir ke salah satu toko yang terletak di dalam platform sambil istirahat sejenak dari lelah berjalan sambil memperhatikan penumpang yang lalu lalang.

Sejak hari itu, saya membayangkan andai sistem transportasi di Indonesia sebaik Hong Kong. Kalau negara lain bisa melakukannya, negara ini juga bisa.

MTR di Hong Kong sudah baik, namun bukan karena sudah baik lantas berhenti. Sejak pertama kali diinisiasi pada 1966, pemerintah Hong Kong memiliki visi yang jauh untuk terus menciptkan MTR yang ideal. Bahkan hingga hari ini, MTR terus berbenah dengan menambah jalur-jalur yang dilaluinya. Pembangunan MTR masih berlanjut dan cetak birunya telah tersusun hingga tahun 2026.

Negara kita sudah mulai menggagas LRT dan semoga kedepannya proyek ini akan terus berkembang dan dapat menjadi alternatif pilih transportasi masal untuk penduduk Jakarta dan kota-kota sekitarnya, kita doakan saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesan Pertama Ke RSKGM FKG UI

Sehari Di Makau