Puasa Bicara


Nonton acara masak-masakan di televisi atau kecium bau harum masakan terus mulut kamu ngerasa basah, dan tiba2 kamu nelen ludah? Itu normal. Saya juga begitu, tapi beberapa bulan ini air liur atau saliva saya nggak terstimulan saat menghadapi situasi tadi.   
Mulut saya kering dan gampang haus padahal udah banyak minum air putih. Kalau habis  ngomong rasanya lebih parah lagi mulut kering dan lengket, nggak jarang bibir nyangkut di gusi. Atau pas lagi ngomong tiba-tiba kaya tersedak seolah-olah nelen ludah padahal nggak ada apa-apa.  
Ngerasain makanan juga jadi agak samar, rada susah buat bedain rasa apa yang dominan di makanan. Dan yang paling mengganggu adalah keluar bau mulut (istilah medisnya halitosis), fix saya berhenti untuk berbicara. Di luar rongga mulut, bibir kering dan nggak jarang merekah sampe berdarah.  
Sejak saat itu saya nggak bisa banyak bicara. Puasa bicara tepatnya. 
Setelah sempet bingung konsultasi kemana, akhirnya saya mutusin buat ke RSKGM FKG UI (klik disini). Dirujuk ke spesialis penyakit mulut, saya ditanganin sama Drg. Anzany. Beliau ini yang menganalisis penyakit saya lewat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sejak awal pertemuan sebelum mengecek keadaan mulut dan gigi.  
Hasil pemeriksaannya keadaan mulut saya sangat kering, nggak ada ludahnya. Begitu diperiksa kelenjar ludah di bawah lidah pun dia mendapatkan hasil nihil. Air liur nggak keluar sama sekali. Setelah beberapa kali di stimulan baru keluar itupun sedikit, kental, dan mengkilap. 
Selanjutnya dokter ngetes produksi air liur. Saya dikasih gelas ukur dan setiap menit saya harus meludah di gelas itu selama lima menit. Apa yang didapat? Gelasnya penuh dengan busa tanpa sedikitpun air liur seperti yang diharapkan. Jadi produksi saliva sementara ini 0 milimeter/menit.  
Air liur/ludah/saliva normal bentuknya encer, berwarna bening, dan tidak mengkilap. Orang dewasa rata-rata memproduksi saliva 0,3-0,5 mm/menit. Gejala yang tadi saya sebutin diatas itu, yang saya rasain beberapa bulan ini ternyata muncul karena ketidaknormalan produksi saliva di mulut. Akibatnya saya merasa kering di mulut. 
Dalam dunia medis keadaan ini disebut dengan penyakit penurunan produksi saliva atau hyposalivation. Jadi simpulannya saya terkena hyposalivation yang umumnya ditandai dengan kekeringan pada mulut (xerostomia). Untungnya di RSKGM dokter nggak langsung ngeresepin obat tapi lebih milih pengobatan dengan cara alami, walaupun efeknya jadi harus bolak-balik supaya bisa dikontrol perkembangannya. 
Pengobatan alami xerostomia ini kaya perbanyak konsumsi sayuran hijau dan buah-buahan yang mengandung banyak air, menggunakan pasta gigi non deterjen, menghentikan pemakaian obat kumur antiseptik dan diganti pakai NaCl, menguyah permen karet yang ada pemanis xylitol-nya, dan memperbanyak konsumsi air putih. 
Dua pekan kemudian saya balik ke RSKGM buat kontrol, dikasih pertanyaan buat perbandingan sebelum dan sesudah (walaupun ini agak subjektif) dan lagi tes ukur saliva. Hasilnya produksi air liur dari 0 mm/menit jadi 0.2 mm/menit. Lumayan lah meskipun bukan kabar yang cukup baik, mengingat dengan cara ini penderita hyposalivation dengan indikasi kekurangan konsumsi zat penting produksi salivanya akan kembali normal. 
Di pengobatan lanjutan ini dengan hasil yang nggak bisa dibilang bagus, saya masih tetep diminta buat ngelanjutin pengobatan sebelumnya. Tapi dengan tambahan dapet rujukan ke psikolog. Hasil diagnosis dari psikolog bakal nentuin pengobatan berikutnya, terapi atau mulai diberikan obat-obatan. 
Setelah dokter giginya meyakinkan saya kenapa sebaiknya saya ke psikolog (saya yang masih bengong dan bingung udah nggak dengerin dokternya bilang apa) ta-tau dikasih surat pengantar yang udah diamplopin rapih. Dan sampai nerima surat itu saya sendiri masih bingung, kenapa dari sakit mulut kering bisa diminta buat nemuin psikolog.  
Saya sempet galau buat mutusin ngelanjutin pengobatan apa nggak. Tapi akhirnya saya nanya juga ke dokternya, apa di UI ada konsultasi ke psikolog. Jawabannya ada dan letak kantornya itu masih satu komplek sama RSKGM FKG UI. Jadi saya langsung kesana biar urusan cepet beres. Keluar dari ruangan dokter gigi, saya buka surat rujukannya dan yang saya garisbawahi dari surat itu hyposalivation c.q. anxiety. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesan Pertama Ke RSKGM FKG UI

Sehari Di Makau