Edisi Idul Fitri 1443 H
Gimana mudik perdana kalian setelah tiga tahun nggak ada momen mudik lebaran?
Cerita mudik lebaran Idul Fitri ini gue kaya kepikiran selama ini selalu mengira waktu 3 (tiga) tahun itu yaudah berlalu aja gitu semacem "wah nggak berasa ya ternyata udah 3 (tiga) tahun lalu". Di tiga tahun belakangan ini sejak 2019 sampai dengan awal 2022 ini ternyata nggak begitu lagi, ini tuh jadi waktu tiga tahun dengan perubahan terbesar dalam hidup yang gue rasain.
Tiga tahun yang nggak akan pernah sama lagi, karena di 3 tahun ini keluarga gue kehilangan 2 orang yang kami sayangin, yang kepergiannya nyisain banyak kerinduan dan ngebuat perbedaan yang ngebawa gue masuk ke tahap pembelajaran hidup lainnya. Masih nggak percaya dalam waktu 2-3 tahunan ini bakal kehilangan 2 orang yang spesial (pakde dan bude) karena paling deket sama keluarga dan sekaligus kaya orang tua gue sendiri karena pakde dan bude udah ngerawat dan nyayangin gue kayak anaknya sendiri.
Mereka yang gue sebut rumah selama 4,5 tahun perantauan gue sekolah di Yogyakarta. Setelah kepergian mbah putri di tahun 1999, setiap balik kampung nggak berasa pakde dan bude adalah dua orang yang selalu menyambut kedatangan kita setiap mudik. Mereka adalah penjaga rumah warisan mbah kakung dan mbah putri di Jawa. Mbah boleh udah nggak ada sejak lama, tapi seiring perjalanan waktu rumah yang awalnya cuma dihuni 2 orang (pakde dan bude) ini dengan regenerasi anak-anak bertambah ramai.
Pernikahan anak-anak pakde dan bude menambah susunan generasi penerus di keluarga dan tentu aja lebaran jadi momen yang seru karena semua keluarga kumpul jadi satu. Setelah kepergian si mbah, tentu momen lebaran dijadiian waktu yang tepat untuk bersilaturahmi ke tempat pakde yang merupakan orang yang dituakan, tentu aja jadi waktu yang ditunggu-tunggu karena kita yang tinggalnya beda kota kumpul semua di rumah pakde dan bude dengan keluarga masing-masing.
Tapi tahun 2020 merubah semuanya, rumah itu kembali kehilangan satu anggotanya, rumah yang kini hanya ditinggali oleh pakde dan bude karena telah lama ditinggal anak-anaknya merantau beda kota sejak masih SMA dan kuliah. Di awal 2020, bude gue dipanggil Tuhan YME kembali ke tempat asalnya. Gue masih inget jelas di mudik 2019 pas kita pamit mau balik ke Jakarta, lagi salaman bude gue bilang dengan keceriaan khasnya "nanti kita ketemu lagi lebaran tahun depan ya" dan gue jawab "aamiin, inshaAllah bude".
Di lebaran 2021, dengan menyisakan pakde Alhamdulillah kami sempet mengunjungi pakde ditengah situasi pandemi COVID-19 yang nggak pernah jelas situasinya sejak awal. Lagi-lagi kita nggak tau ternyata itu adalah pertemuan terkahir gue sama pakde, mendekati Idul Adha 2021 selang 1 tahun 4 bulan kepergian bude, pakde gue nyusul dipanggil Tuhan YME kembali ke tempat asalnya. Genap sudah kepergian keduanya meninggalkan kekosongan di rumah Jawa, nggak ada lagi penjaga rumah di Jawa, siapa kira kalau rumah di Jawa akan sepi ditinggal penghuninya.
Di Idul Fitri 1443 H, Mei 2022 ini setelah pandemi agak mereda kami berusaha kumpul di rumah yang sama. Ya Allah kali ini baru berasa, tempat yang sama, orang yang sama, tapi rasanya jauuuuh berbeda. Bukan rumah/tempat/orangnya yang berubah tapi rasa di hati dan pikiran ini yang banyak berubah, nggak ada lagi yang menjawab salam hangat nan ceria juga genggangaman tangan untuk dicium, nggak ada lagi sambutan ramai saat kita sampai di rumah itu, nggak ada lagi yang nyiapin sarapan, makan siang, dan makan malam di rumah itu, nggak ada lagi cerita bude dan pakde tentang kesehariannya, dan nggak ada lagi yang ngedadah-in ketika mau kembali pulang.
Suasana ramai tapi ada yang sepii di hati ada yang hilang di sana, suatu sore ketika kami baru tiba di rumah Jawa duduk di bangku teras menikmati sore dengan cuaca yang sedang sangaat panas, nggak lama kemudian lewat ibu-ibu penjual tahu kupat melewati rumah sambil si ibu mendorong gerobak dagangannya si ibu penjual yang melintas menengok ke arah rumah kami berujar "mau nawarin tahu kupat tapi pakde-nya sudah nggak ada," ya Allah T_T.
Rumah itu, kini kunci pintu, pintu dan jendelanya kami yang buka. Rumah itu kini tidak lama-lama ditinggali, tapi masih tetap digunakan untuk kebaikan inshaAllah untuk menjalin silaturahmi dengan sepupu sambil berdoa ikatan persaudaraan ini nggak udahan sampai di sini, berharap terus terbawa ke anak cucu hingga nanti, tempat melepas rindu bersama-sama, bertukar kabar setelah sekian lama tidak berjumpa.
Semoga rindu ini menghilang konon katanya waktu sembuhkan _hati-hati di jalan_

Komentar