Dunia Pendidikan Butuh “Yankumi”


山口久美子

“Sekolah bukan tempat  bermain tapi untuk belajar. Makna belajar bukan untuk mendapatkan nilai bagus, tapi untuk melatih diri mengatasi kesulitan-kesulitan hidup”

Kata-kata itu diucapin “Yankumi” saat ngakuin dirinya menyesal sebab nggak bisa nyaksiin murid-muridnya lulus SMA, karena keburu dikeluarin dari sekolah.

Kenapa “Yankumi”?? Karena dalam sosok “Yankumi” saya ngeliat sosok guru yang sebenar-benarnya. Ada ungkapan “Guru” di gugu dan ditiru kan, nah “Yankumi” ngewakilin ungkapan ini.

“Yankumi” yang nggak bisa tidur karena mikirin masalah murid, rela belajar bahasa inggris meskipun dia guru matematika, pantang nyerah, ngasih semangat, percaya dan ngelindungin murid meskipun nggak semua kata-kata sama tindakan muridnya sesuai.

“Yankumi” lebih dari sekedar seorang guru yang hanya berniat menyelesaikan tugas di dalam kelas. “Yankumi” nggak cuma ngajarin muridnya pelajaran matematika dan arti kejujuran dan cara menyikapi berbagai masalah.

Disaat nggak ada satu pun orang dewasa yang percaya sama murid yang terkenal sangat bermasalah dan selalu menimbulkan masalah, “Yankumi” justru percaya sama murid-muridnya, yang berbuah kepercayaan dari murid-muridnya.

“Yankumi” bisa nunjukkin ke orang yang memandang mereka sebelah mata, “Yankumi” buka mata orang yang salah memandang murid-murid nakal. “Yankumi” nggak pernah menyalahkan murid-murid ini. Baginya murid nakal cuma melakukan kesalahan lebih banyak dari murid lainnya. Dan ini nggak berarti mereka nggak boleh disebut sebagai murid yang baik.

Menyikapi perkelahian yang marak di kalangan pelajar, “Yankumi” nggak pernah melarang muridnya berantem. Tapi “Yankumi” marah besar saat ngeliat muridnya berkelompok nyerang satu orang.

Inget peraturan ini ya .. kamu nggak bisa mengganti sebutan ‘tawuran atau gangster’ dengan ‘berantem.’ Misalnya kamu bilang “Anak sekolah A berantem sama anak sekolah B.” Kenapa?? Karena tawuran/gangster BEDA sama berantem.

Anak laki-laki sangat wajar jika berantem tapi nggak wajar tawuran, karena tawuran masuk dalam kategori kekerasan. Semua anak laki-laki berantem tapi nggak semua anak laki-laki melakukan kekerasan kan.

Berantem itu satu lawan satu. Berantem dilakuin karena berusaha ngelindungin orang-orang yang kita sayang. Dan berantem berhenti setelah berusaha semaksimal mungkin untuk ngelindungin orang-orang yang kita sayang, terlepas dari menang atau kalah nggak ada dendam.

Sementara tawuran/gangster motifnya bisa macam-macam, mulai dari masalah pribadi yang dibawa-bawa jadi masalah umum dengan mengatasnamakan ‘solidaritas.’

Misalnya satu orang dijailin, nggak terima, terus ngadu ke kelompoknya. Sampe ada yang cuma iseng biar dibilang jagoan, meneruskan tradisi kaka kelas di sekolah, dan seribu karangan cerita lainnya. Tawuran akhirnya nggak akan berhenti, karena dasar melakukan tawuran nggak jelas.

Makanya sekali tawuran, di lain hari akan ada “tawuran balasan” istilah mereka, begitu seterusnya. Tawuran pun jadi dendam dan sampai kapanpun dendam nggak akan ada ujungnya. Makanya sampe sekarang masih banyak anak sekolah ngelakuin tawuran ..

Pesan “Yankumi” untuk murid-murid seperti di awal tulisan ini, sekolah bukan tempat untuk bermain tapi belajar. Karena belajar nggak melulu soal dapet nilai bagus, tapi lebih untuk belajar kehidupan makanya murid-murid harus rajin datang ke sekolah.

Kesusahan maupun kesenangan yang dialamin di sekolah, pada akhirnya sekolah merupakan sebuah tempat dimana murid-murid bermimpi untuk bisa lulus bersama-sama suatu hari nanti.  


Tulisan pertama di Januari 2013 :)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesan Pertama Ke RSKGM FKG UI

Sehari Di Makau