Penerbangan Berisik
Hal apa yang kalian rasain dan lakuin saat ada dalam pesawat menunggu take off? Saat pilot membawa penumpangnya yang ada dalam pesawat, muter-muter di landasan pacu bandara sesaat sebelum pesawat terbang?
Baca buku critical eleven-nya mba Ika Natassa, dalam dunia penerbangan ada yang namanya critical eleven, ini adalah sebelas menit saat paling menentukan dalam penerbangan (3 menit setelah pesawat lepas landas dan 8 menit sebelum mendarat). Karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.
Saya baru tau tapi mungkin kamu dan yang lainnya udah lebih dulu tau. Mungkin itu sebabanya suasana hening selalu terasa setiap kalo pesawat akan lepas landas, mungkin karena penumpang dalam pesawat khusyuk berdoa memohon keselamatan.
Selama ini dalam penerbangan domestik, yang saya rasain saat itu adalah suasana hening. Apalagi kalau lampu dalam kabin sudah dimatikan, suasana hening semakin terasa. Saya nggak tau apa yang ada dalam pikiran orang-orang di saat seperti itu.
Pengalaman terbang masih di dalam negeri, rute Jakarta-Yogyakarta, Jakarta-Lombok misalnya dengan sebagian besar penumpang orang bule pun, suasana hening tetap terasa saat pesawat akan lepas landas. Tapi entah kenapa hal ini nggak berlaku dengan pengalaman terbang saya kali ini.
Saya menumpangi pesawat Jet Star dengan rute penerbangan Hong Kong-Singapura. Suasana gaduh terasa saat penumpang mulai memasuki pesawat, hal yang biasa terjadi. Dalam hati bilang nanti juga nggak berisik saat pesawat udah mau lepas landas.
Pukul 19:00 waktu Hong Kong dan pesawat penuh karena akhir pekan, jadi banyak orang yang berencana liburan ke negara tetangga. Crew cabin melalui pengeras suara mulai ngasih informasi keselamatan sambil pramugari memeragakan cara memakai alat-alat keselamatan, suara ribut masih kedengaran.
Sampai tibalah saat lampu pesawat dimatikan dan saya udah siap-siap memejamkan mata sambil berdoa. Saya kira suara berisik itu bakal udahan, tapi saya salah duga. Doa buyar gegara suara berisik nggak mereda yang ada semakin menjadi-jadi tambah berisik. Malah ada yang ketawa-tawa.
Mulai gerah sendiri, misuh-misuh dalam hati nih orang-orang bukannya pada berdoa malah ngobrol sendiri. Mana suaranya kenceng banget kan jadinya berisik dan ini kan udah malem juga, emang nggak pusing daritadi ngobrol, awak yang ngedengirin aja udah puyeng, oh my God.
Dengan kondisi begini, melek pusing tidur nggak nyaman, udahlah dipaksain aja tidur-tiduran siapa tau bisa ketiduran beneran. Dan Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan dengan bisa tidur di pesawat, baru kali ini. Sepanjang perjalanan lima jam nggak ada suasana hening.
Kebisingan yang sama juga terjadi saat pesawat akan mendarat, lagi-lagi bukannya pada diem yang ada penumpang malah tambah rame. Untung udah mau mendarat dan ganti pesawat jadi nggak bareng orang-orang ini lagi. Kalo masih bisa mabok saya.
Besokkannya, terbang dengan maskapai yang sama beda rute. Dan kali ini tipikal masyarakat Indonesia, atau emang di pesawat isinya orang Indonesia semua? Saya rasa karena masih serumpun. Suasana yang hening pun kembali tercipta.
Emang jadi ada pelajarannya sih, bareng sama penumpang yang berisik itu bikin suasana takut berbaur. Sempet kepikiran ini orang-orang bisa ketawa lepas di saat kaya begini, mungkin karena mereka udah percaya sama pilot. Jadi emang bikin suasana lebih rileks.
Sementara dengan orang-orang yang lebih diem, kadang bikin suasana tambah mencekam. Iya nggak sih? Jangan-jangan enggak, cuma saya doang yang punya pikiran kayak begini.
Baca buku critical eleven-nya mba Ika Natassa, dalam dunia penerbangan ada yang namanya critical eleven, ini adalah sebelas menit saat paling menentukan dalam penerbangan (3 menit setelah pesawat lepas landas dan 8 menit sebelum mendarat). Karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.
Saya baru tau tapi mungkin kamu dan yang lainnya udah lebih dulu tau. Mungkin itu sebabanya suasana hening selalu terasa setiap kalo pesawat akan lepas landas, mungkin karena penumpang dalam pesawat khusyuk berdoa memohon keselamatan.
Selama ini dalam penerbangan domestik, yang saya rasain saat itu adalah suasana hening. Apalagi kalau lampu dalam kabin sudah dimatikan, suasana hening semakin terasa. Saya nggak tau apa yang ada dalam pikiran orang-orang di saat seperti itu.
Pengalaman terbang masih di dalam negeri, rute Jakarta-Yogyakarta, Jakarta-Lombok misalnya dengan sebagian besar penumpang orang bule pun, suasana hening tetap terasa saat pesawat akan lepas landas. Tapi entah kenapa hal ini nggak berlaku dengan pengalaman terbang saya kali ini.
Saya menumpangi pesawat Jet Star dengan rute penerbangan Hong Kong-Singapura. Suasana gaduh terasa saat penumpang mulai memasuki pesawat, hal yang biasa terjadi. Dalam hati bilang nanti juga nggak berisik saat pesawat udah mau lepas landas.
Pukul 19:00 waktu Hong Kong dan pesawat penuh karena akhir pekan, jadi banyak orang yang berencana liburan ke negara tetangga. Crew cabin melalui pengeras suara mulai ngasih informasi keselamatan sambil pramugari memeragakan cara memakai alat-alat keselamatan, suara ribut masih kedengaran.
Sampai tibalah saat lampu pesawat dimatikan dan saya udah siap-siap memejamkan mata sambil berdoa. Saya kira suara berisik itu bakal udahan, tapi saya salah duga. Doa buyar gegara suara berisik nggak mereda yang ada semakin menjadi-jadi tambah berisik. Malah ada yang ketawa-tawa.
Mulai gerah sendiri, misuh-misuh dalam hati nih orang-orang bukannya pada berdoa malah ngobrol sendiri. Mana suaranya kenceng banget kan jadinya berisik dan ini kan udah malem juga, emang nggak pusing daritadi ngobrol, awak yang ngedengirin aja udah puyeng, oh my God.
Dengan kondisi begini, melek pusing tidur nggak nyaman, udahlah dipaksain aja tidur-tiduran siapa tau bisa ketiduran beneran. Dan Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkan dengan bisa tidur di pesawat, baru kali ini. Sepanjang perjalanan lima jam nggak ada suasana hening.
Kebisingan yang sama juga terjadi saat pesawat akan mendarat, lagi-lagi bukannya pada diem yang ada penumpang malah tambah rame. Untung udah mau mendarat dan ganti pesawat jadi nggak bareng orang-orang ini lagi. Kalo masih bisa mabok saya.
Besokkannya, terbang dengan maskapai yang sama beda rute. Dan kali ini tipikal masyarakat Indonesia, atau emang di pesawat isinya orang Indonesia semua? Saya rasa karena masih serumpun. Suasana yang hening pun kembali tercipta.
Emang jadi ada pelajarannya sih, bareng sama penumpang yang berisik itu bikin suasana takut berbaur. Sempet kepikiran ini orang-orang bisa ketawa lepas di saat kaya begini, mungkin karena mereka udah percaya sama pilot. Jadi emang bikin suasana lebih rileks.
Sementara dengan orang-orang yang lebih diem, kadang bikin suasana tambah mencekam. Iya nggak sih? Jangan-jangan enggak, cuma saya doang yang punya pikiran kayak begini.
Komentar