Indonesia Pakai Tapi

Kalau saya tanya nih, suka nggak sih sama sinetron (drama Indonesia)? iyuuh nggak banget pasti jawabannya.
Kalau drama China? episodenya kebanyakan sih, setiap pemeran kayak diceritain semuanya gitu, tapi pemainnya ganteng dan cantik ya lumayan lah (tjurhat).
Kalau drama China? episodenya kebanyakan sih, setiap pemeran kayak diceritain semuanya gitu, tapi pemainnya ganteng dan cantik ya lumayan lah (tjurhat).
Kalau drama Korea? itu si Seo Joon di What's Wrong With Secretary Kim ya ampun ganteng banget, kyaa... trus si Kang Bak Soo, Han Duk Eun (nama artis Korea versi "Ngopi Yuk") dan cerita pun berlanjut panjang.
Katanya Indonesia tapi nggak cinta sinetron heuu... Giliran c-drama, j-dorama, apalagi k-drama dibela-belain download, sampe hafal jalan ceritanya apalagi aktor sama aktrisnya yang maen. Koleksi di komputer-nya so pasti drama Korea, Jepang, atau China dong, ditambah satu lagi yang baru masuk list 'drama Thailand'. Drama Thailand? iyaa, aktor sama aktrisnya ganteng dan cantik walaupun omongannya bikin gimana gitu tapi mendinglah daripada sinetron nggak jelas.
Prolog diatas itu opini saya banget, agak skeptis tapi itulah faktanya. Saya sendiri lebih pilih buat ngikutin jalan cerita drama jepang, korea, china, thailand ketimbang sinetron sendiri. Sepanjang-panjangnya jalan cerita drama china, mereka masih punya akhir (walaupun nggak selalu berakhir happy ending, yailah udah panjang nggak happy ending pula, kzl -_-). Kalo sinetron kita, duh kayaknya sutradaranya udah mulai tapi nggak mau mengakhiri begitu.
Yakin deh, kalian pasti tahu beberapa judul sinetron kayak tersanjung, cinta fitri (woo jadul sekalee), tukang bubur naik haji, ganteng-ganteng srigala, dkk. Saya yakin juga, udah nggak tau pasti jumlah episodenya, kalau ditanya gimana jalan ceritanya pasti nggak ada yang bisa nyeritain balik, nggak jelas lah pokoknya. Beda kalau disebut DOTS, otomatis kalian bakal di luar kepala cerita "oh itu drama yang dokter sama tentara di daerah konflik itu kan, yang pemainnya bla..bla...bla"
Yap itulah sinetron Indonesia, panjang dan entah apa yang mau disampein dari cerita yang dibikin, sekedar hiburan mungkin? nggak, coba siapa yang ngerasa nonton sinteron terus terhibur? Sinetron kita itu dibuat demi rating. Semakin tinggi ratingnya semakin panjang epsiodenya, sebaliknya semakin sedikit penontonnya, langsung dibikin ilang itu pemeran utamanya dan kemudian sinetronnya-pun ikutan hilang.
Beda sama pengalaman nonton sinetron dari negara-negara lain, yang selalu penasaran buat diikutin, ditunggu episode berikutnya, dan pengen ngeliat ending ceritanya. Sinetron kita? Awalnya lumayan, pas penasaran diulur-ulur ceritanya, mulai bikin kesel, semakin nggak jelas, dan akhirnya ilang sendiri sinetronnya, apalagi buat ngerti gimana akhirnya (memilih keluar dari nonton karena melelahkan).
Drama asing?
Sejauh ini ada dua drama yang saya tonton dan melatarbelakangi tulisan ini. Pertama drama korea Hong Gil Dong dan yang kedua drama china The King's Woman. Motif nonton dua drama itu jelas karena suka sama pemain utamanya (Hong Gil Dong karena Kang Ji Hwan, The King's Woman karena Dilraba Dilmurat dan Zhang Bin-Bin). Yang bikin lebih suka lagi setelah nonton, karena latar belakang keduanya sama-sama menceritakan sejarah (maklum anaknya sejarah banget).
Nah dari sudut pandang saya sebagai yang suka sejarah, dua drama ini asik banget dipake buat belajar sejarah. Karena Hong Gil Dong nyuguhin cerita "Robin Hood" versi negeri gingseng yang sangat populer, terlepas dari apakah si Gil Dong ini beneran ada atau cuma fiksi. Sementara The King's Woman menceritakan sejarah Dinasti Qin, tentang bagaimana seorang kaisar bernama Ying Zheng ini sangat berkeinginan untuk menyatukan China.
Hong Gil Dong sama The King's Woman kan nyeritain sejarah, nggak bosen gitu nontonnya? nggak sama sekali, ini nih hebatnya si sutradara drama (atau apalah sebutannya). Mereka bisa memberikan tontonan yang berlatar belakang sejarah, tapi dikemas dengan cerita kekinian. Buat saya idenya bapak sutradara drama ini untuk menceritakan sejarah leluhur dan usaha dia menjaga cerita sejarah dalam ingatan generasi berikutnya patut diacungi jempol dong.
Karena lewat sebuah tontonan drama yang umumnya dianggap ringan dan menghibur, sutradaranya berhasil menceritakan sejarah sebuah bangsa loh (ini kalau di pelajaran sejarah sekolah udah jelas berat banget bahasannya, karena harus ngafalin nama raja, nama dinasti, tahun, dll yang bakal bikin kita nguap). Atau emang cara berpikir mereka itu dibalik, bagamana caranya supaya bisa menceritakan sejarah bangsa lewat tontonan yang ringan dan menghibur, hmm...bisa jadi sih.
Oke cerita dramanya boleh jadul namanya juga nyampein sejarah, tapi liat lah siapa pemeran utamanya (di kasus dua drama itu sih shining star-nya industri perfilman China dan Korea). Liat juga gaya berpakaian, properti yang digunakan, dan goresan make-up para pemainnya, kekinian banget. Dan yang nggak kalah penting, modifikasi cerita, walaupun cerita yang diangkat ngambil sudut pandang berbeda tapi tetep nggak keluar dari jalan cerita sejarahnya.
Ini sebenernya kan 11-12 ya sama Indonesia. Sinetron kita bisa banget buat cerita sebagus mereka, apalagi negara ini gudangnya sejarah sampai legenda mulai dari kerajaan Majapahit, Kerajaan Kutai Kertanegara, Kerajaan Sriwijaya sampe cerita Sangkuriang, Tangkuban Perahu, Malin Kundang, dll yang bisa di remake jalan ceritanya tapi tetap mengacu ke sejarah yang ada, walaupun ide utama cerita yang mau disampein berbeda.
Oke cukup sudah, yang mau saya sampaikan adalah drama atau sinetron Indonesia udah saatnya sejajar sama drama-drama dari negara lain. Dari dulu saya yakin sutradara, penulis naskah, dan crew yang terlibat sanggup menghasilkan drama yang berkelas. Cuma mungkin ini bukan tentang sanggup atau nggak sanggup, mampu atau nggak mampu, tapi permasalahannya itu mau atau nggak mau. Dan mungkin selama ini mereka bukannya nggak mampu tetapi lebih karena nggak mau.
Atau ada yang emang nggak menginginkan penduduk negeri ini mengenal sejarah bangsanya lewat tayangan sinetron yang mengedukasi misalnya. Kalau Cina, Jepang, Thailand bisa mengedukasi masyarakat untuk mengenal sejarah lewat tontonan yang asik, kenapa kita nggak? Semoga besok atau lusa ada dari kita yang bakal merubah jalan cerita sinetron negeri ini, biar nggak banyak drama lagi yaa, aamiin.

Komentar